Berjuang hari ini untuk hari esok. Karena hidup adalah perjuangan. Orang yang berjuang di jalan Allah pasti selalu mendapatkan pertolongan Allah SWT. Namun bagi orang yang zalim sesungguhnya mereka tidak mendapatkan apapun kecuali kerugian.
Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, baik di laut maupun di darat. Kebijakan pemerintah dalam menata perekonomian belum sepenuhnya dirasakan masyarakat kelas bawah. Tengok masyarakat di pedesaan, mereka sebagian besar bekerja sebagai petani. Pertanian itu bermacam-macam sebut saja petani sawa yang setiap hari memacul dibawah trik panas matahari. Namun hasilnya dinikmati hanya 15%. Bagaimana mungkin petani itu bisa hidup sukses sementara berpenghasilan rendah.
Kehidupan masyarakat di pedesaan sudah mencerminkan kegagalan negara dalam menata ekonomi kerakyatan. Di sisi lain misalnya masyarakat yang bekerja di bidang perindustrian mengalami resesi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Pemutusan hubungan kerja dan keterbatasan lapangan kerja dapat berefek terhadap peningkatan pengangguran dan kemiskinan.
Masyarakat Indonesia sebagian juga bekerja sebagai pedagang. Kalau mereka pedangang yang bergensi mendapat tempat yang layak, namun bagi yang tidak bergensi misalnya pedagang kaki lima yang jualan di emperan, seringkali diusir Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sehingga yang terjadi adalah kekerasan. Sudah banyak korban berjatuhan baik dari pedagang pasar kaki lima maupun satpol PP, nah, pemerintah seharusnya berlaku arif dan bijaksana dalam menyelesaikan persoalan ini.
Simak perjalanan memasuki pemilihan umum secara langsung, yang dalam kampanyenya pihak-pihak yang bertarung dalam perhelatan politik itu kemudian mengobral janji yang kebanyakannya merubahan ekonomi kerakyatan. Hal itu nampak pada masing-masing calon pasangan presiden dan wakil presiden.
Setelah mereka terpilih, tentu saja mereka memiliki ligitimasi yang jauh lebih kuat untuk mengambil langkah-langkah strategis dan sekaligus menjadi tanggung jawab menyangkut permasalahan perekonomian rakyat. Namun sangat disesalkan legitimasi rakyat kepada presiden dan wakilnya tersebut bukannya akan lebih berpihak kepada rakyat malahan hanya mementingkan pihak-pihak tertentu yang notabenenya adalah mereka yang dekat seperti parpor koalisi.
Kalau disebut-sebut bahwa perkembangan perekonomian ekonomi nasional Indonesia dipengaruhi perkembangan ekonomi dunia yang dipicu oleh suprime mortgage di Amerika Serikat. Menurut saya imbasnya tidak terlalu mempengaruhi masyarakat kelas menengah dan bawah.
Masyarakat hidup aman, justru menikmati penghasilan yang walaupun rendah, ini sebenarnya tidak terkait oleh kiblat ekonomi. Ekonomi Indonesia itu tidak perlu berkiblat ke Amerika, karena cukup dengan sumber daya alam saja masyarakat Indonesia sudah bisa hidup layak. Namun terjadinya kemiskinan di Indonesia itu bersumber dari ketidakadilan pemerintah yang saat ini dipimpin presiden dan wakil presiden.
Penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Barisan Insan Muda (DPP. BIMA)
Katakanlah: " Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyak yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah, hai Ulul Albab, agar kamu mendapatkan keberuntungan." (QS.al-Maidah:100)
Ulul Albab adalah istilah Al-Qur'an yang sering dijadikan rujukan bagi sebuah semangat gerakan Islam terutama yang menjadikan intelektual sebagai paradigma dasar gerakannya.
Karena merupakan istilah Al-Qur'an, maka tidak ada satu terjemahan yang paling tepat, kecuali terminologi " Ulul Albab" itu sendiri. Walaupun demikian, Ulul Albab sering diterjemahkan dengan " orang yang punya akal". Adalah yang mendapatkan kehormatan dari Tuhan. Biasanya berupa tantangan dengan tujuan untuk dapat mengetahui rahasia-rahasia langit dan bumi. Bagaimana citra insan Ulul Albab itu? Berikut diantara citra Ulul Albab:
1. Ulul Albab adalah mereka yang mampu mengambil hikmah akan ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat Al-Qur'an Allah berfirman
:
Dialah yang menurunkan al-kitab (Al-Qur'an) kepada kamu. Dia antara isi (nya) ada ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat mutasyabihat). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: " Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran:7)
Potongan akhir ayat di atas menjelaskan bahwa " hanya" insan Ulul Albab yang dapat menyadari dan mengambil inti hikmah serta sanggup untuk mengatakan bahwa ayat di atas juga berindikasikan mutasyabihat.
2. Ulul Albab adalah mereka yang mengetahui kebenaran itu berasal dari Tuhan.
Firman Allah SWT:
Adakah orang-orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (QS.ar-Ra'd:19).
3. Ulul Albab adalah mereka yang dapat merenungi kosmos ciptaan Ilahi.
Firman Allah SWT:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (QS. Ali'Imran: 190).
Terminologi Ulul Albab di atas menunjukkan pada orang yang mampu merenungi kosmos ciptaan Ilahi. Mengapa " langit" dipasangkan dengan " bumi"? Kenapa Tuhan tidak "menjodohkan" langit dengan, misalnya matahari, yang sementara orang sains modern diyakini sebagai pusat tata surya kita? Atau kenapa tidak dipasangkan dengan planet lain selain bumi di dalam jagat raya ini?
Itulah pertanyaan-pertanyaan mendasar seputar rahasia ciptaan Allah, yang tak mungkin manusia yang tak berakal akan mampu untuk merenungkannya.
4. Ulul Albab adalah mereka yang istiqamah dalam keyakinan kepada Allah.
Firman Allah SWT:
Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyak yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah, hai Ulul Albab, agar kamu mendapatkan keberuntungan (QS. al-Maidah: 100)
Ukuran baik dan buruk bukanlah pada legitimasi kerelatifan, namun pada logika kemutlakan. Kemutlakan yang terpahami adalah merupakan kemutlakan yang relatif, dan inilah yang sampai kepada kepahaman manusia. Sedangkan kemutlakan yang mutlak hanyalah milik yang Maha Mutlak, Allah SWT. Sehingga parameter kebaikan dan keburukan adalah nilai-nilai transedental, yakni apa yang datang dari Allah SWT.
5. Ulul Albab adalah mereka yang merasa cukup dengan Al-Qur'an sebagai kitab penjelas dan pemberi peringatan.
Firman Allah SWT:
Al-Qur'an Ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia dan supaya mereka memberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (QS.Ibrahim: 52).
Merasa cukup dengan Al-Qur'an bukan berarti menafikan sumber-sumber hukum di bawah Al-Qur'an yakni hadis dan ijtihat, namun justru sebagai konstitusi yang tertinggi dan tidak ada yang lebih tinggi. Insan Ulul Albab adalah memberikan penjelasan dan peringatan tentang pentingnya menjadikan tauhid sebagai pandangan dunia yang paling puncak, di atas pandangan dunia teologi, filsafat, dan sains.
6. Ulul Albab adalah mereka yang beriman kepada Allah, yang takut akan azab-Nya yang keras.
Firman Allah SWT:
Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; yaitu orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu." (QS.at-Thalaq:10).
Ayat di atas barangkali adalah ayat yang paling luas pengertiannya tentang " kategori" Ulul Albab. Menurut Ayat tersebut, Ulul Albab adalah seorang yang beriman kepada Allah SWT. Dengan kata lain, Ulul Albab artinya seorang mukmin, yang tidak cukup hanya melafalkan keimanan kepada Allah, malaikat, rasul, kitab, hari kiamat, dan takdir saja, namun juga meyakini akan keadilan Tuhan dan hukum-hukum kausalitas-Nya.
7. Ulul Albab adalah mereka yang diberi hikmah oleh Tuhan.
Allah SWT berfirman:
Allah memberi hikmah kepada siapa saja yang dikehendakinya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sesungguhnya telah diberi kebijakan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal."(QS.al-Baqarah:289).
Hikmah adalah pengetahuan tentang hakikat sesuatu sebagaimana adanya. Ia adalah, " pohon yang tumbuh dalam hati dan berbuah di lisan". Hikmah adalah puncak kesempurnaan.
8. Ulul Albab adalah mereka yang mampu menangkap pesan-pesan sejarah.
Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah ceritra yang dibuat-buat, akan tetapi, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf:111)
Imam Nawawi berpendapat bahwa yang dimaksud kitab dalam ayat tersebut adalah kitab Nabi Yusuf as dan saudara-saudaranya, atau kisah para rasul. As-Suyuthi mengartikan lafadz itu dengan kisah para rasul.
Dalam konteks kehidupan sekarang, insan Ulul Albab mempresentasikan diri dalam bentuk tiga kecerdasan yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Insan Ulul Albab telah ditunjukkan pribadi-pribadi agung dan mulia dalam sejarah Islam.
Tentang ketiga kecerdasan itu dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Kecerdasan Intelektua
Kecerdasan intelektual atau Intelectual Quetiont (IQ) merupakan kecerdasan yang paling tua usianya. Ia merupakan kecerdasan anak sulung manusia. Yang telah berabab-abab diyakini sebagai satu-satunya kecerdasan yang dimiliki oleh manusia, sampai kemudian, dunia dikejutkan oleh dua penemuan baru tentang kecerdasan, yakni kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Sebagaimana dua kecerdasan ini, maka kecerdasan intelektual (IQ) juga bekerja dalam otak manusia.
2. Kecerdasan Emosional
Kecerdasan Emosional atau Emotional Quetiont (EQ) pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harverd University dan John Mayer dari University of New Hampshire, untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Kualitas ini antara lain adalah:
-Empati
-Mengungkapkan dan memahami perasaan
-Mengendalikan amarah
-Kemandirian
-Disukai
-Kemampuan memecahkan masalah antar pribadi
-Ketekunan
-Kesetiakawanan
-Keramahan
-Sikap hormat.
3. Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan Spirituan atau Spiritual Quetiont (SQ) dalam ilmu psikolog adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan makna dan nilai, yakni kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
Sampai detik ini, SQ adalah puncak kecerdasan yang dimiliki manusia, dimana jenis kecerdasan ini akan memberikan berbagai inspirasi dan kekuatan dalam diri manusia.
B. Pandangan Lain
Kecerdasan merupakan braen power yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap manusia. Manusia memiliki pikiran yang harus dimanfaatkan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi.
Secara umum, kecerdasan (intelligence) merupakan general mental capability, yang melibatkan kemampuan manusia untuk memberi argumen atau menciptakan alasan ( reasonting), merencanakan, memecahkan masalah, berfikir secara abstrak, memahami ide-ide yang kompleks, belajar dengan cepat dari pengalaman. Kecerdasan merupakan penentu dari kesuksesan dan executive intelligence merupakan titik sentral dari kinerja kepemimpinan. Semua pemimpin yang hebat memiliki executiveintelligence.
Akar dari kecerdasan terletak pada kemampuan manusia untuk melahirkancritical thingting. Dan critical thingting hanya akan hadir apabila terdapat 3 kondisi penting yang melandasinya:
Kondisi terbebas dari rasa takut (faer free condition). Rasa takut akan menjauhkan dari kecerdasan, pada saat ketakutan menghantui manusia, proses berfikir, perasaan, kinginan dan tingkah laku akan terganngu. Dapat dikatakan bahwa the biggest enemy of intellignce is the fear, trutama yang dilakukan olh para pemimpin yang srius mngatasnamakan Tuhan dan mereka yang tidak cerdas atau yang anti kecerdasan. Menurut pandangan para pemimpin yang tidak mnginginkan kecerdasan bahwa orang yang cerdas sulit untuk tunduk atau loyal kepada kepentinganpemimpin.
Berfikir positif (positive thingting). Dengan berfikir positif , maka diharapkan feling akan mnjadi positif.
Memahami dan menrima perbedaan merupakan anugerah yang dimiliki olh manusia baik dari sisi fisik maupun pikiran, asal usul, kyakinan, atau prilaku yang dapat berbeda dari satu manusia dengan manusia lainnya.
Mengapa Harus Berfikir Cerdas
Ada beberapa argument yang sangat mendasar dikmukakan dalam kaitannya dengan pemanfaatkankecerdasan untuk meembangun competencies, value creation dan competencies dapat dijelaskan sebagai brikut:
Manusia yang mmiliki dan mampu memanfaatkan kcrdasan adalah mreka yang mampu mentransformasikan pngalamannya menjadi pngetahuan dan memanfaatkan pengetahuan ini dan menghubungkan dengan persoalan di masa yang akan dating.
Manusia yang crdas t5idak akan perna miskin, karena kecerdasannya dapat dimanfaatkan untuk memecahkan persoalan sendiri, dan bahkan dapat digunakan untuk mnolong orang lain menjadi manusia yang cerdas pula.
Talent dan jenius serta competence dan wisdomberakar dari kecerdasan.
Kcerdasan (intelligence) merupakan determinant factor dari kesuksesan bersumber dari tiga prinsip dasar yaitu: (1) simplicity; (2) dynamics; (3) coomunication. Ini berarti bahwa ketiga prinsip trsebut bias dilaksanakan untuk memerlukan kecerdasan.
dalam kaitannya dengan kepemimpimpinan, greatness needs great leaders .
Sistem demokrasi dan pasar bebas mlahirkan pilihan-pilihan bagi masyarakat, terutama bagi pemimpin untuk meengambil keputusan.
Kebahagiaan yang hakiki, sebagaimana yang diungkapkan oleh Mahatma Gandhi, adalah merupakan kebebasan tatanan berfikir. Pada hakkatnya hanya orang cerdas yang memiliki kebebasan berfikir.
Penulis adalah mantan Ketua Umum Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam Himpunan Mahasiswa Islam (LDMI HMI) Cabang Ambon. Skarang Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Barisan Insan Muda (DPP. BIMA)
PT. ISS yang beralamat di Jl. TB. Simatupang, Jakarta Selatan diduga melakukan lembur tanpa ada bayaran upah kepada karyawan yang dipekerjakan. Alasannya upah lembur dibayar dengan hari libur. Padahal di dalam Undang-undang ketenagakerjaan, pemerintah berusaha meningkatkan kesejahteraan buruh atau tenaga kerja.
Buruh merupakan salah satu kekuatan dalam memajukan sebuah perusahaan,namun sayangnya upaya yang diharapkan untuk mengubah ekonominya itu terkadang mengalami hambatan dari perusahaan.
PT. ISS yang merupakan salah satu Perusahaan nasional yang ikut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, sejatinya tidak menyalahgunakan Undang-undang ketenagakerjaan. Agar buruhpun juga mendapatkan kehidupan yang layak.
Setelah tim investigasi mengonfermasikan dengan salah seorang karyawan yang enggan menyebut namanya, ia mengungkapkan bahwa PT. ISS mempergunakan tenaga lembur, tapi upah lemburnya itu sudah digantikan dengan hari libur.
"Seandainya pekerja yang memiliki hari kerja mulai dari Senin sampai Sabtu dan bila ada overtime sampai 8 jam dalam satu bulan, maka upah overtime tersebut akan digantikan dengan hari libur yang tercatat dalam hari wajib kerja,"katanya.
"Sebenarnya kami pun mengharapkan hari libur untuk istirahat, namun kalau ada overtime kami harus dibayar dan bukan diganti dengan hari libur," tegasnya.
Celakanya lagi di lingkungan PT. ISS, sambung karyawannya, perusahaan dilarang mengenakan jilbab dalam bekerja. Padahal alasan karyawan yang dengan mengenakan jilbab itu dengan tujuan menutup aurat rambut sesuai ajaran Islam.
Menyimak kondisi tenaga kerja pada PT. ISS mengenai upah lembur yang dibayar dengan hari libur dan larangan mengenahkan jilbat itu, karyawan mengharapkan, agar kasus ini perlu diselesaikan pemerintah atau pihak terkait
Sementara itu Parlin, Menager HRD, PT. ISS, membantah, isu tidak membayar upah itu tidak benar.
Menurut Parlin, setiap karyawan tetap mendapatkan haknya, namun kalau ada supervisor yang memanipulasi data karyawan sehingga upah lembur pekerja dibayarkan dengan hari libur, maka akan diberikan sangsi tegas berupa PHK," kata Parlin dengan nada tegas dan wajah memerah.
Masih dengan nada tegang, Parlin mengakui, dari awal pihaknya tidak pernah melakukan praktek seperti itu." kami justru harus patuh terhadap peraturan Depnaker, karena kalau kami melanggar peraturan tenaga kerja tentu kami mendapatkan sangsi dari Depnaker," tegasnya.
Mengenai larangan berjilbab, Parlin juga membantah, pihaknya tidak melarang untuk mengenakan jilbab.
"Silahkan mengenakan jilbab, karena itu ibadah yang harus dilakukan," kilahnya.
Pernyataan Parlin tersebut menurut pantauan Indowarta ternyata di lingkungan kantor pusat di Jl. TB. Simatupang, Jakarta Selatan tidak ditemukan satu orang muslimah yang mengenakan jilbab. (Adam)
Suatu negara kebangsaan kerap dihadapkan pada dilema antara membangun integrasi dan mengembangkan demokrasi. Idealnya kedua hal tersebut dapat berjalan seiring tanpa harus saling mengganggu. Tetapi, dalam kenyataannya kerap terjadi upaya memperkokoh ikatan kebangsaan melalui apa yang disebut integrasi harus berhadapan secara diametral dengan upaya memberikan otonomi kepada berbagai kelompok di dalam masyarakat, untuk mengagregasikan dan mengartikulasikan kehendak-kehendak politiknya melalui apa yang disebut demokrasi.
Paradoks ini memang bukan barang baru. Namun, lebih sering terlihat inheren dalam proses membangun tatanan politik yang dipenuhi idealitas demokrasi seraya tetap mempertahankan kohesi sosial masyarakatnya. Setiap proses politik ke arah itu pasti menimbulkan krisis-krisis yang menuntut kehati-hatian dalam melanjutkan proses-proses yang lebih lanjut. Karena hal tersebut tidak saja melibatkan teori-teori politik, tetapi juga itikad baik, etikapolitik dan rasa solidarita ssebagai nation (bangsa).
Selama empat tahun terakhir sejak awal 2005, Indonesia mengalami pasang surut yang cukup dinamis dalam kehidupan dan harmonisasi hubungan antar kelompok. Pada umumnya, melalui kerja keras dan upaya yang terkoordinasi, pemerintah berhasil mempertahankan stabilitas sosial dan politik dalam kehidupan masyarakat, sebagai kelanjutan pencapaian akumulatif dari tahun-tahun sebelumnya. Wilayah-wilayah yang konflik seperti Poso, Maluku, Nangroe Aceh Darusalam (NAD), dan Papua, terus memperlihatkan kemajuan signifikan dalam proses pemulihan kehidupan masyarakat di masing-masing daerah. Kebijakan pemerintah yang bersifat persuasif, tidak memihak, proaktif dan berimbang ternyata telah cukup mampu meyakinkan berbagai pihak bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.
Khusus di NAD, stabilitas sosial politik yang terjadi tidak terlepas dari keberhasilan program reintegrasi yang telah dilaksanakan melalui kerja sama pemerintah pusat dan pemerintah provinsi NAD, serta peran forum komunikasi dan koordinasi yang menjadi wadah bagi penyelesaian masalah berkaitan dengan agenda perdamaian yang telah disepakati. Sedangkan di Papua, situasi yang relatif cukup kondusif merupakan sumbangan dari adanya penguatan implementasi Otonomi Khusus bagi provinsi Papua sesuai dengan Undang-undang No. 21 tahun 2001 dengan penerapan Inpres No. 5 tahun 2007 tentang percepatan pembangunan provinsi Papua dan Papua Barat dengan penerapan New Deal Policy. Pada tahun 2008 tentang Majelis Rakyat Papua (MRP) khususnya yang menyangkut keuangan MRP.
Berkaitan dengan hak-hak politik, masih terlihat adanya kesenjangan antara semangat dan kebebasan yang besar dalam berpolitik masyarakat dengan kemampuan organisasi politik untuk menjalankan fungsi-fungsinya secara memadai untuk mengakomodasi aspirasi politik masyarakat. Hal itu terlihat dari besarnya semangat dan potensi partisipasi politik rakyat untuk ikut berorganisasi dalam partai politik dan organisasi masyarakat sipil.
Simak perjalanan pilkada akhir tahun 2008 dimana pilkada itu berjalan relatif lancar dan aman. Perselisihan dalam Pilkada Gubernur Jawa Timur tahun 2008 dapat diselesaikan secara hukum melalui Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk melakukan pemungutan suara ulang di dua Kabupaten di Porvinsi Jawa Timur. Pada daerah lain, meskipun terjadi perselisihan yang cukup tajam sejak akhir akhir 2007 mengenai hasil pilkada Gubernur Maluku Utara antara pihak-pihak yang bersaing dalam pilkada, namun kasus ini sudah dapat diselesaikan secara politik dengan mempertimbangkan semua aspek hukum melingkupi semua persoalan pilkada ini. Pemerintah sudah menetapkan pemenang Pilkada Maluku Utara dan mengharapkan semua pihak berbesar hati untuk menerima keputusan pemerintahitu.
Pada sisi perkembangan kinerja institusi demokrasi, sejak awal 2005 sampai 2009 itu, Indonesia telah mengalami proses transformasi politik yang sangat berarti bagi konsolidasi demokrasi. Lembaga-lembaga penyelenggaraan negara yang sudah ada sejak beberapa dekade terakhir ini terlihat bergerak maju secara lebih dinamis dalam melaksanakan peran dan fungsi yang diberikan konstitusi kepada lembaga masing-masing.
Pada tanggal 17 Agustus tiap tahun bangsa Indonesia merayakan dan memperingati kemerdekaan nasional, sebagai tanda mensyukuri karunia dan rahmat Ilahi.
Dalam perjuangan mencapai kemerdekaan kemerdekaan itu, bangsa Indonesia pada umumnya dan kaum Muslimin pada khususnya, selalu berpedoman kepada petunjuk Ilahi.
Dalam Al-Quran surah Al-Imran ayat 103 Allah SWT berfirman yang artinya: Dan berpegang eratlah kamu sekalian dengan tali Allah, dan janganlah berpecah-belah. Ingat nikmat Tuhan kepada kamu, tatkala kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu dipersatukan-Nya hati kamu, sehingga dengan nikmat Tuhan itu kamu menjadi bersaudara. Dahulu kamu berada di pinggir lobang neraka (kebinasaan), maka Tuhan melepaskan kamu dari padanya. Demikian Tuhan menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada kamu,mudah-mudahan kamu menuruti jalan yang benar.
Dengan memperingati hari kemerdekaan itu kita berharap dapat memperkuat keyakinan bangsa bahwa kemerdekaan nasional adalah karunia (rahmat) Ilahi kepada seluruh bangsa.
Perjuangan yang telah dilakukan oleh pahlawan-pahlawan Angkatan ke Angkatan dengan segala bentuk pengorbanan yang beranekaragam, adalah satu keharusan iktiarisasi yang mesti dilakoni untuk mencapai cita-cita. Akan tetapi, tercapainya cita-cita itu bergantung sepenuhnya kepada kekuasaan Tuhan. Jika Tuhan hendak mempercepat proses pencapaiannya, maka tidak ada satu kekuatan yang dapat membendungnya. Dalam menilai pencetusan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, maka faktor yang mempercepat prosesnya itu adalah rahmat Tuhan. Tanpa rahmat dan hidayah Tuhan tidaklah mungkin pemimpin-pemimpin Indonesia mempunya cukup keberanian bathin memproklamasikan kemerdekaan itu, mengingat persiapan-persiapan yang boleh dikatakan kurang samasekali.
Salah satu diantara esensialitas mensyukuri nikmat kemerdekaan Indonesia ialah mengembalikan mental dan cara berfikir kepada iklim dan suasana tatkala proklamasi kemerdekaan itu diumumkan, semua golongan dan pihak, berjejer bahumembahu memupuk dan mempertahankan kemerdekaan itu, tanpa kecurigaan antara satu pihak terhadap pihak yang lain.
Penulis adalah mantan Ketua Umum Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam, Himpunan Mahasiswa Islam (LDMI HMI) Cabang Ambon 2000-2001. Kini aktif di organisasi Barisan Insan Muda (BIMA) dan menjabat sebagai wakil sekjen DPP.BIMA.
Pemerintah dalam menata perekonomian bangsa seharusnya bersikap berani, menantang serta memberikan motivasi kepada perusahaan nasional supaya berkembang, dimulai dengan mengkolaborasi agenda perencanaan pembangunan ekonomi dengan dunia usaha. Proses untuk memajukan ekonomi membutuhkan pengembangan terus-menerus yang akan meningkatkan kemampuan kapasitas dan teknologi bangsa Indonesia untuk menghadapi kompotisi Internasional. Peraturan pemerintah harus benar-benar arif dan bijaksana dalam menyediakan pondasi bagi sumber daya manusia, sains, teknologi dan infrastruktur.
Kompotisi strategi perusahaan atau kebijakan negara masih terlihat dalam proses pembangunan, dan hal inilah yang lambat berhasil mendorong industri nasional untuk mengambil posisi terdepan dalam pengembangan industri. Strategi perusahaan dan kebijakan pemerintah negara harus bisa mendorong kemajuan bangsa.
Setiap negara dapat meningkatkan kemakmuran ekonominya jika berhasil menguasai kelemahan-kelemahannya untuk meningkatkan industrinya. Ada kecenderungan pada beberapa tahun ini, kompotisi seperti ajang kontes, dimana ada beberapa negara berhasil memenangkan kompotisi karena kuat di pembiayaan dibandingkan negara lain.
Kemampuan untuk meningkatkan ekonomi sangat tergantung pada posisi perusahaan nasional dalam kompotisi internasional. Hal ini merupakan bagian dari ekonomi, yang berisi banyak industri yang berpotensi meraih level tinggi dalam produktivitasnya. Tanpa adanya kemampuan untuk mengekspor (dan terpeliharanya posisi menghadapi import), maka pertumbuhan produktivitas nasional akan macet. Ekspor dan import sangat fundamental dalam meningkatkan proses produksi. Kompotisi global dibuat sebagai bagian dari ekonomi untuk lebih meningkatkan daya saing internasionalnya dan juga sangat menentukan untuk kemakmuran ekonomi nasionalnya.
Semua negara mau tak mau menerima Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menjadi badan supra nasional yang mampu memaksa negara manapun mencabut semua hambatan tarif dan non tarif. Termasuk mencabut subsidi untuk orang miskin dan sektor-sektor ekonomi yang sensitif seperti pertanian. Secara kronologi, terbentuknya WTO awalnya adalah proyek negara-negara sedang berkembang. Tujuannya agar mereka dapat memperbaiki kondisi ekonominya yang terbelakang akibat bertumpu pada ekspor bahan mentah. Itu dilakukan pasca konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung yang dipelopori Indonesia, India dan Alzajair.
Sejalan dengan itu pemerintah Indonesia dalam merumuskan agenda dalam menjalankan roda pembangunan nasional berdasarkan UU No. 17 tahun 2007, secara ringkas, arah, tahapan dan prioritas pembangunan Indonesia dapat dijabarkan sebagai berikut : Tujuan pembangunan jangka panjang tahun 2005-2025, adalah mewujudkan bangsa yang maju, mandiri, dan adil sebagai landasan bagi tahap pembangunan berikutnya menuju masyarakat adil dan makmur. Sebagai ukuran tercapainya tujuan dalam 20 tahun adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang beraklak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab ditandai dengan karakter yang tangguh, kompetitif, dan bermoral serta berorientasi iptek, dan mantapnya budaya bangsa.
Terwujudnya bangsa yang berdaya saing untuk mencapai makmur dan sejahtera, yang ditunjukkan tercapai pertumbuhan ekonomi berkesinambungan sehingga pendapatan perkapita tahun 2025 berpenghasilan menengah,tingkat pengangguran terbuka tidak lebih 5%, jumlah penduduk miskin tidak lebih 5%. Meningkatnya kualitas sumber daya manusia ditandai meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pembangunan Gender (IPG), tercapainya penduduk tumbuh seimbang.
Penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Barisan Insan Muda (DPP. BIMA)
Peningkatan kesejahteraan rakyat akan dicerminkan dalam meningkatnya pendapatan masyarakat dari waktu-waktu, dan itu tidak akan diindikasikan dengan tingkat upah dan gaji serta tingkat tabungan masyarakat.
Membangun kesejahteraan rakyat perlu dibangun ekonomi secara baik. Pembangunan ekonomi yang baik menurut saya adalah pembangunan ekonomi yang memiliki pertumbuhan yang tinggi dan berkualitas, resistensi terhadap goncangan dan terdistribusikan secara adil. Namun demikian kesejahteraan rakyat mengharuskan berkembangnya rasa aman. Kesejahteraan juga tidak mungkin tanpa berkembangnya rasa keadilan.
Perwujudan penegakkan keadilan yang terpenting dan berpengaruh ialah menegakkan keadilan di bidang ekonomi atau pembagian kekayaan diantara anggota masyarakat. Keadilan menuntut agar setiap orang dapat bagian yang wajar dari kekayaan rejeki. Dalam masyarakat yang tidak adil, maka kekayaan dan kemiskinan akan terjadi dalam kualitas dan proporsi yang tidak wajar sekalipun realitas selalu menunjukan perbedaan-perbedaan antara manusia dalam kemampuan fisik maupun mental, namun dalam kemiskinan masyarakat dan pemerintah yang tidak menegakkan keadilan adalah keadilan yang merupakan perwujudan dari kezaliman.
Kejahatan di bidang ekonomi yang menyeluruh adalah mereka yang berpaham kapitalis. Dengan adanya kapitalisme itu, seseorang dapat memeras orang-orang yang berjuang mempertahankan hidupnya dari kemiskinan. Untuk itu perlu diberantaskan kapitalisme dan segenap usaha akumulasi kekayaan pada sekelompok kecil masyarakat.
Pembangunan ekonomi secara tidak benar itu hanya ada dalam suatu masyarakat yang tidak menjalankan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebagaimana yang terdapat pada ekonomi Islam. Sistem ekonomi ini bertolak dari Allah, bertujuan akhir kepada Allah dan menggunakan sarana yang tidak lepas dari Syariat Islam.
Ekonomi Islam tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan duniawi, tetapi juga bagaimana mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak. Tujuan ini disebut dengan Falah, yakni kesuksesan, kemuliaan atau kemenangan. Dalam konsep falah, akhirat merupakan kehidupan yang diyakini nyata-nyata ada, dan akan terjadi, dan memiliki nilai kuantitas dan kualitas yang lebih berharga dibandingkan dunia. Kehidupan dunia akan berakhir dengan kematian atau kemusnahan, sedangkan kehidupan akhirat bersifat kekal dan abadi.
Dalam ekonomi Islam, konsep Resource Based Ekonomy menjadi konsekuensi logis dalam aktivitas produksi. Hal ini diperlukan untuk keberlangsungan generasi selanjutnya, sehingga orientasinya lebih berjangka panjang.Impilikasi kongkrit dari aktivitas ini adalah konsep pembangunan yang berkesinambungan.
Sejalan dengan itu perlu adanya menciptakan pembangunan ekonomi Indonesia ke depan. Pembangunan ekonomi ke depan harus disusun berdasarkan sekuen dan prioritas, yakni sebagai berikut:
Pertama, memenuhi prakondisi untuk mengakselarasi pergerakan sektor riil. Kedua, memberikan stimulus fiskal dengan tetap memperhatikan keberlanjutan fiskal, untuk mempercepat pergerakan ekonomi. Ketiga, meningkatkan stabilitas makro dan moneter. Stabilitas makro dan meliter merupakan syarat keharusan untuk pembangunan ekonomi Inndonesia. Stabilitas makro memberikan harapan tumbuh dan berkembangnya ekonomi, sehingga dapat mendorong perbaikan kinerja sektor riil. Bersama dengan perbaikan iklan usaha, kondisi iklim makro yang stabil akan meningkatkan minat dan keyakinan investor untuk menanamkan modalnya.
Keempat, penyehatan dan peningkatan efisiensi sektor perbankan dan penguatan pasar modal. Sektor perbankan yang sehat merupakan faktor penting untuk meningkatkan pertumbuhan. Namun, penyehatan perbankan tidak boleh berhenti pada upaya restrukturisasi. Upaya tersebut akan dilanjutkan pada peningkatan fungsi intermediasi perbankan, yang pada gilirannya dapat mendorong kinerja sector riil.
Penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Barisan Insan Muda (DPP. BIMA)
Manusia adalah puncak ciptaan dan mahluk Allah yang tertinggi. Sebagai mahluk tertinggi manusia dijadikan sebagai khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi. Manusia ditumbuhkan dari bumi dan diserahi untuk memakmurkannya. Maka urusan di dunia telah diserahkan Tuhan kepada manusia. Manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas segala perbuatannya di dunia. Perbuatan manusia ini membentuk rentetan peristiwa yang disebut "sejarah". Dunia adalah wadah bagi sejarah, dimana manusia sebagai pemilik atau "rajanya"
Manusia sebagai pemilik bumi menjalankan tugasnya selain sebagai khalifah atau wakil Tuhan itu, manusia juga bertugas sebagai hamba Tuhan yang selalu taat dan tunduk dalam menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Manusia yang merupakan mahluk tertinggi dalam ciptaan Tuhan tersebut sangat memerlukan suatu bentuk kepercayaan. Kepercayaan itu akan melahirkan tatanilai guna menopang hidup dan budayanya. Sikap tanpa percaya atau ragu, maka kesempurnaan itu tidak mungkin terjadi. Tetapi selain kepercayaan itu dianut karena kebutuhan dalam waktu yang sama juga harus merupakan kebenaran. Demikian juga cara berkepercayaan harus pula benar. Menganut kepercayaan yang salah bukan saja tidak dikehendaki atau tetap bahkan berbahaya.
Disebabkan kepercayaan itu diperlukan, maka dalam kehidupannya kita temui bentuk-bentuk kepercayaan itu beraneka ragam di kalangan masyarakat. Karena bentuk-bentuk kepercayaan itu berbeda satu dengan yang lain, maka sudah tentu ada dua kemungkinan yaitu kesemuanya itu salah atau salah satu diantaranya benar. Disamping itu masing-masing bentuk kepercayaan mungkin mendung unsur-unsur kebenaran dan kepalsuan yang campur baur.
Sekalipun demikian kenyataan menunjukkan bahwa kepercayaan itu melahirkan nilai-nilai yang kemudian melembaga dalam tradisi-tradisi yang diwariskan turun temurun dan mengingat anggota masyarakat yang mendukungnya. Karena kecenderungan tradisi untuk tetap mempertahankan diri terhadap kemungkinan perubahan nilai-nilai, maka dalam kenyataan ikatan tradisi sering menjadi penghambat perkembangan peradaban dan kemajuan manusia. Disinilah terdapat kontradiksi kepercayaan diperlukan sebagai sumber tata nilai guna menopang peradaban manusia, tetapi nilai-nilai itu melembaga dalam tradisi yang membeku dan mengikat, maka justru merugikan peradaban.
Di dalam Islam kepercayaan itu ditandai dengan kalimat kesaksian (Syahadat) Islam yang kesatu: Tiada Tuhan selain Allah mengandung gabungan antara peniadaan dan pengecualian. Perkataan " Tidak ada Tuhan" meniadakan segala bentuk kepercayaan, sedangkan perkataan " Selain Allah" memperkecualikan satu kepercayaan kepada kebenaran. Dengan peniadaan itu dimaksudkan agar manusia membebaskan dirinya dari belenggu segenap kepercayaan yang ada dengan segala akibatnya, dan dengan pengecualian itu dimaksudkan agar manusia hanya tunduk pada ukuran kebenaran dalam menetapkan dan memilih nilai-nilai yang berarti tunduk kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Dia pencipta segala yang ada termasuk manusia. Tunduk dan pasra itu disebut Islam.
Tuhan itu ada, dan ada secara mutlak. Pendekatan ke arah pengetahuan akan adanya Tuhan dapat ditempuh manusia dengan berbagai jalan, baik yang bersifat intuitif, ilmiah, historis, pengalaman dan lain-lain. Tetapi karena kemutlakan Tuhan dan kenisbian manusia, maka munusia tidak dapat menjangkau sendiri kepada pengertian akan hakekat Tuhan yang sebenarnya. Namun demi kelengkapan kepercayaan kepada Tuhan, manusia memerlukan pengetahuan secukupnya tentang Ketuhanan dan tatanilai yang bersumber kepada-Nya.
Sesuatu yang diperlukan itu adalah " Wahyu" yaitu pengajaran atau pemberitahuan yang langsung dari Tuhan sendiri kepada manusia. Tetapi sebagaimana kemampuan menerima pengetahuan sampai ke tingkat yang lebih tinggi tidak dimiliki oleh setiap orang. Wahyu itu hanyalah bisa diberikan kepada orang tertentu yang memenuhi syarat dan dipilih oleh Tuhan sendiri yaitu para Nabi dan Rosul atau utusan Tuhan. Dengan kewajiban para Rosul untuk menyampaikan kepada seluruh umat manusia. Para Rosul dan Nabi itu telah lewat dalam sejarah semenjak Adam, Nuh, Ibrahim,Isa sampai pada Muhammad SAW. Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rosul penghabisan, jadi tidak ada rosul lagi sesudahnya.
Wahyu Tuhan yang diberikan kepada Muhammad SAW terkumpul seluruhnya dalam kitab suci Al-Quran. Selain sebagai bacaan, kata Al-Quran juga berarti " kumpulan" atau kompilasi, yakni kompilasi dengan segala keterangan. Sekalipun garis-garis besar Al-Quran merupakan sebuah kompendium yang singkat namun mengandung keterangan-keterangan tentang segala sesuatu sejak dari sekitar alam dan manusia sampai kepada hal-hal gaib yang tidak mungkin diketahui manusia dengan cara lain. Jadi untuk memahami Ketuhanan Yang Maha Esa dan ajaran-ajaran-Nya, manusia harus berpegang kepada Al-Quran dengan terlebih dahulu mempercayai kerasulan Muhammad SAW. Maka kalimat kalimat kesaksian yang kedua memuat esensi kedua dari kepercayaan yang dianut manusia yakni Muhammad adalah Rosul Allah.
Simak Al-Quran yang diturunkan kepada Muhammad SAW yang didalamnya keterangan lebih lanjut tentang Ketuhanan Yang Maha Esa. Seperti yang terdapat pada Surat Al-Ikhlas yang menerangkan secara singkat ; Katakanlah: Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dia itu adalah Tuhan. Tuhan tempat menaru segala harapan. Tiada Ia berputera dan tiada pula berbapa. Selanjutnya Ia adalah Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Kasih dan Maha Sayang, Maha Pengampun dan seterusnya dari pada segala sifat kesempurnaan yang selayaknya bagi yang Maha Agung dan Maha Mulia, Tuhan seruh sekalian Alam.
Penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Barisan Insan Muda (DPP. BIMA).